Kesalahan Pada Penggunaan dan Pengejaan Bahasa Baku

 

Jika komunikasi dan sebuah percakapan  ingin berjalan dengan baik tentulah harus menggunakan bahasa yang baik dan perkataan yang benar. Perkataan yang benar berarti berkata dengan jelas berdasarkan ketentuan bahasa yang berlaku. Sebagai seorang pelajar, sering kali kita dihadapkan pada beberapa situasi yang dimana mengharuskan kita untuk menggunakan bahasa baku. Proses belajar mengajar termasuk ke dalam situasi semi formal atau situasi yang tidak terlalu formal dan tidak pula terlalu santai. Penggunaan bahasa baku di situasi semi formal tidak diharuskan akan tetapi para pelajar sebaiknya menggunakannya karena dinilai lebih sopan dan efektif.


Sebelum membahas lebih jauh tentang penggunaan bahasa baku yang baik dan benar, alangkah baiknya kita mengetahui arti dari bahasa baku dan bahasa tidak baku terlebih dahulu. Bahasa baku adalah ragam bahasa yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia, baik menyangkut ejaan, lafal, bentuk kata, struktur kalimat, maupun penggunaan bahasa.  Sedangkan bahasa tidak baku adalah ragam bahasa yang tidak mengikuti kaidah bahasa Indonesia.

           Seseorang yang berbicara menggunakan bahasa dengan baik akan memperlihatkan hubungan yang logis antara bahasa yang digunakannya dengan pikiran yang terkandung dalam bahasa tersebut. Hal yang harus dilakukan agar kita bisa menggunakan bahasa yang baik dan benar adalah dengan cara membiasakan diri. Namun kita seringkali menemukan orang-orang yang penggunaan bahasanya salah kaprah. Salah kaprah adalah kesalahan umum yang sudah  terbiasa. Karena sudah terbiasa dengan kesalahan, masyarakat menganggap bahasa yang digunakannya sudah benar. Masyarakat atau pelajar seringkali tidak memperhatikan apakah penulisan dan pengucapannya sesuai aturan atau tidak, yang terpenting menurut mereka adalah tujuan dan maksudnya tersampaikan. Oleh karena itu, penggunaan dan pengejaan bahasa baku bukanlah hal yang patut di sepelekan karena disadari atau tidak kesalahan pengucapan pada bahasa baku kerap membingungkan masyarakat dan bisa berdampak fatal.

            Munculnya kesalahan pada penggunaan bahasa baku dapat disebabkan karena adanya perkembangan bahasa yang pesat. Seperti banyaknya istilah baru, kosakata baru, dan bentukan bahasa baru. Bentuk baru yang muncul kurang didasari oleh pengetahuan yang cukup tentang kaidah bahasa, sehingga terjadilah kesalahan. Seringkali dalam sebuah artikel atau media informasi lainnya, bahasa baku sering dituliskan secara salah. Contohnya: “Pekerjaan itu memiliki resiko yang tinggi dibanding pekerjaan lain.” Terdapat kesalahan pada kalimat tersebut. Tepatnya pada kata “resiko” kata tersebut sering digunakan di media formal namun dalam pengejaannya masih sering terjadi kesalahan. “Resiko” merupakan kata tidak baku dari “Risiko”.

            Di artikel kali ini, saya akan menjelaskan tentang beberapa penyebab kesalahan pengucapan bahasa baku yang sering terjadi di lingkungan masyarakat secara lebih rinci. Berikut ini adalah penyebab-penyebabnya :

A.    Pengaruh Bahasa Daerah

Pada pelaksanaan Kongres Bahasa ke-9 yang digelar pada tahun 2008 diketahui bahwa Indonesia memiliki sedikitnya 442 bahasa. Oleh karena itu, bukan merupakan hal yang aneh jika pada acara formal, seseorang mengucapkan bahasa baku yang salah karena sudah terbiasa berbicara menggunakan bahasa daerah di tempat mereka tinggal. Sebagai contoh pada kata nomor, Senin, seribu yang sering dieja dengan nomer, Senen dan serebu. Kata-kata diatas merupakan kata yang sering disepelekan dalam pengucapan bahasa baku.

B.     Kurang Teliti

Sering ditemukan pada laporan tugas siswa. Kurang telitinya siswa dalam membuat karangan menjadi salah satu penyebab terjadinya kesalahan penggunaan kata baku. Terkadang masih banyak siswa yang belum memahami aspek ejaan dan mayoritas siswa belum mengetahi kaidah penggunaan kata baku yang tepat sehingga siswa hanya mengandal pengetahuan tanpa mencari tahu atau membaca pedoman umum kata baku.

C.    Kurangnya Pemahaman

Kurangnya pemahaman menjadi penyebab lain dari kesalahan penggunaan bahasa baku. Bahasa baku kerap kali di sepelekan dan di anggap tidak terlalu berpengaruh. Padahal pemahaman mengenai bahasa baku sangatlah penting. Cara agar kita dapat memahami dan belajar lebih jauh tentang bahasa baku adalah dengan cara sering membuka PUEBI, KBBI dan kamus-kamus lain yang berhubungan dengan kaidah bahasa Indonesia.

D.    Merasa Sudah Benar

Diantara penyebab-penyebab diatas, penyebab yang satu ini yang menurut saya sangat berbahaya. Seperti yang sudah di jelaskan di awal, ketika seseorang menganggap bahasa yang digunakannya sudah benar, orang tersebut akan terus-menerus menggunakannya tanpa mencari tahu kebenaran kaidah bahasanya. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika kita tidak mau mencari tahu lebih dalam, kita harus menerima masukan dan kritikan dari orang lain yang mengoreksi kita. Jangan berkeyakinan bahwa bahasa yang kita gunakan sudah tepat dan benar.

 

Itulah beberapa penjelasan mengenai penyebab-penyebab dari kesalahan penggunaan bahasa baku yang sering kita temui di lingkungan masyarakat. Janganlah menganggap sepele hal-hal kecil dan menganggap diri sendiri paling unggul dan merasa benar. Marilah kita pelajari lebih dalam lagi mengenai penggunaan dan pengejaan bahasa baku agar mudah di mengerti orang lain dan bermanfaat bagi semua. Sebagai orang Indonesia yang baik, kita pun harus berbahasa dengan baik dan benar. Akhir kata, semoga artikel ini bermanfaat bagi semua. Mohon maaf bila masih ada kesalahan dan kekeliruan karena kita masih sama-sama belajar.



Comments